Ruyati Dipancung, Pemerintah Harus Bertangung Jawab


Kematian buruh migrant bernama Ruyati yang dihukum pancung Sabtu 16 Juni 2011 di Saudi Arabia menyisakan duka mendalam pada keluarganya dan seluruh masyarakat Indonesia. Sebagai pekerja domestik, Ruyati dikabarkan kerap mendapat perlakuan yang tidak baik di Saudi Arabia. Keluarganyapun pernahmenmdengar keluhan TKI ini tentang majikannya di negeri rantau ini,

Ruyati yang dituduh membunuh majikannya kemudian diancam hukuman mati dengan dipancung. Pemerintah dianggap lalai dalam melindungi warga negaranya karena tak memberi perlindungan maksimum terhadap Ruyati. TKI yang kerap dijuluki pahlawan devisa ini memang tak memiliki jaminan yang memadai baik di luar negeri maupun ketika kembali di dalam negeri. Alih alih mendukung, KBRI atau KOnjen kerap kali diberitakan tak peduli nasib para pahlawan devisa ini. Pemandangan yang kontras dapat disaksikan beberapa meter saja dari apsnduk berbunyi "selamat datang pahlawan devisa" di pintu imigrasi Bandata Soekarno Hatta, harus melalui pintu tidakj nyaman di layanan khusus TKI. Kisah diperas di jalan oleh supir bus bandara bukan lagi menjadi rahasia.

Dalam kasus pancung terhadap Ruyati tentu saja pemerintah harus bertanggung jawab. Ketidak tahuan pemerintah indonesia di Saudi Arabia tercium dari pernyataan di media bahwa pemerintah saudi tak memberitahu KBRI tentang pemancungan ini. Kesimpulannya kasus hukum TKI memang tak dikawal oleh pemerintah dalam hal ini KBRI dan instansi terkait. Lantas sdiapa yang harus memperjuangkan nasib warga negara kita? Jangan jadi pemerintah kalau tak berani bertanggung jawab atas nasib rakyatnya.

No comments: